Pengelana Sunyi
kategori: Diari - Tanggal Posting : 28/03/2010 23:36 WIB
Menjelang sore hari di tepi sebuah hiruk-pikuk jalanan berdebu, aku duduk menunggu keberangkatan di atas bangku panjang sebuah agen bus malam. Memandang lalu-lalang kendaraan hilir mudik tiada henti sepanjang hari. Awan kumulus di langit berarak, menggumpal bergulung-gulung dalam sebuah kepekatan yang menakutkan. Berjuta butiran air tiba-tiba turun serempak dari langit. Orang-orang berlarian menepi, menutupi kepala dengan segala benda yang dipegangnya. Bau tanah basah sontak menyebar memenuhi udara. Air menggenang di mana-mana, di atas aspal, di trotoar, di selokan dan mungkin di sudut mata pedagang asongan seberang jalan itu.
Bus bergerak meninggalkan batas kota yang basah, membawaku rebah sendiri dalam galau. Awan gelap mulai tersibak memperlihatkan rona jingga di ufuk barat. Burung-burung walet terbang mengiris langit, melawan kehendak angin. Terbersit keraguan ke mana arah menuju. Di bingkai sebuah jendela kulihat wajah langit dengan kelu. Tempat duduk kosong, ruangan kelam, televisi bisu yang tergantung di atas kabin sopir dan hembusan udara air conditioner di atas kepalaku semakin membuatku tenggelam dalam beku.
Roda-roda ban terus bergerak berputar mendepa jarak. Gemuruhnya menjalar di gigil sendi tulang lima penumpang tiga awak. Sesekali cahaya lampu mobil yang berpapasan menerpa, menciptakan siluet dalam diam. Di sepanjang Pantura itu kulewati sepengggal malam, tinggalkan ratusan jarak di belakang hingga tiba di gerbang sebuah kota. Kulirik jam di pergelangan tangan, pukul setengah tiga dini hari.
Bapak tua pengayuh becak yang tengah tidur meringkuk di becaknya terbangun serta-merta menyambutku dengan tergagap. Kedatanganku telah memutus tidur malamnya yang tak tuntas. Berselang sesaat ia kayuh becak tuanya perlahan menembus kebekuan ujung malam. Jalanan aspal gelap yang lengang, kabut pagi dalam siraman pendar cahaya kuning lampu jalan menciptakan suasana temaram. Becak yang kunaiki melintasi lapangan kota yang berumput dengan pohon Banyan di tengahnya. Di sisi Timur seorang pahlawan bersorban duduk dengan gagahnya di atas pelana kuda, tangannya menunjuk ke sebuah arah dengan ekspresi garang. Sudah 33 tahun ia di sana tanpa tanda-tanda hendak turun dari singgasananya. Di sudut lainnya sebuah menara air raksasa telah berdiri puluhan tahun di situ. Keberadaannya kini menjadi penanda dan kebanggaan tersendiri bagi warga kota.
Di belakangku, dengan nafas ngos-ngosan si bapak tua tiada putusnya berkeluh kesah tentang sepinya penumpang saat kini. Begitu berat perjuangan meraih rejeki buat mereka. Di lain pihak justru ada abdi negara golongan 3A yang mampu meraup milyaran rupiah dengan begitu mudah. Sungguh sangat ironis ketimpangan di negeri yang katanya 'gemah ripah loh jinawi' ini. Di telingaku, suaranya terdengar menyayat bagai tikaman seribu belati tepat di ulu hati. Sebuah kisah pilu orang-orang yang terpinggirkan. Dan aku hanya bisa terpekur dalam diam.
Di mulut sebuah gang, becak berhenti. Aku berdiri terpaku menatap sudut-sudutnya. Gang kecil itu sekarang terlihat semakin sempit. Sepetak tanah kosong tempatku dulu bermain gundu, loncat karet dan petak umpet kini tertutup konblok yang tak ramah lagi. Pohon Sawo, Nangka dan Mangga kini telah berganti dengan tembok-tembok bata membentuk lorong atau koridor yang sumpek. Entahlah, apakah kenangan masa kecil itu akan mampu bertahan dalam kurun masa.
Rumah tua berkusen hijau yang mulai lapuk dengan dinding retak di beberapa sudutnya masih mampu berdiri dalam terpaan waktu. Di sana di dalam sebuah kamar yang tak luas, kutemukan seorang perempuan renta terbujur berselimut kain kusut. Badannya ringkih terbalut kulit keriput. Kelopak mata cekungnya terbuka perlahan menatapku sayu ketika punggung tanganku mencoba megusap keningnya. Panas badannya segera menjalari telapak tanganku.
"Kapan datang?" Sebuah pertanyaan singkat terdengar lirih, datar nyaris tanpa intonasi. Ah...suara itu terdengar asing di telingaku. Bukan suara ekspresif yang penuh energi kehidupan seperti biasanya. Waktu telah merubah segalanya pikirku, dan aku merasa kehilangan sesuatu. Tanganku bergerak ke atas membelai rambut putihnya, tak tersisa lagi keindahan rambut hitam lebat yang dulu tergerai panjang hingga pinggang. Ia menggumamkan sesuatu yang tak jelas maksudnya sambil kembali mengatupkan kelopak matanya kemudian membalikkan badan memunggungiku. Kamar pun kembali sepi.
Berpuluh tahun lalu wanita itu mampu berjalan dengan tegar sendirian. Di tengah kerasnya kehidupan, ia berkubang dengan keringat bahkan airmata, mengumpulkan serpihan-serpihan rejeki yang tak seberapa demi menyambung nafas keluarga. Bicaranya tegas bahkan terkadang keras terutama bagi orang yang belum mengenal wataknya. Tetapi di balik sikapnya itu justru tersimpan kejujuran dan kesederhanaan yang selalu ia coba tanamkan ke anak-anaknya. Kini setelah anaknya tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing, aku bisa membayangkan betapa sepi hari-hari yang mesti dilaluinya. Di hari pertemuan itu semakin menyadarkanku bahwa waktu ke depan tak akan pernah terlihat sama lagi, dan sekali lagi aku merasa telah kehilangan sesuatu.
Sebuah perjalanan singkat nan sunyi, memunculkan kembali geletar di hati. Suatu rasa yang tak terbahasakan, sekali pun dengan menggubah selaksa puisi atau sejuta prosa. Seperti ketika kutinggalkan kota itu di suatu senja dalam rinai gerimis. Dalam bingkai kaca jendela kulepaskan pandang ke luar. Gelap, tak ada siapa pun di sana. Hanya butiran air yang menempel di kaca buram kemudian mengalir ke bawah perlahan melewati bayangan seorang lelaki. Antara hujan dan airmata telah sulit dibedakan.
(Magelang, 18-20 Maret 2010: sebuah catatan perjalanan)
Posting ini telah dibaca : 205 kali|Komentar : 1|
KOMENTAR
1 posting hari ini | 6 posting minggu ini | 8 posting bulan ini
0 blogger baru hari ini | 3 blogger baru minggu ini | 4 blogger baru bulan ini

perjalanan yang ............... pingin jg tuh nulis sebuah perjalan yang begitu imajinatif. maju terus deh.









